Kebudayaan Banyuwangi Warisan Majapahit


gandrung banyuwangi pic
Leonardo da Vinci, ternyata tidak hanya seorang pelukis yang sangat mumpuni, tetapi juga pemikir yang menjelajah berbagai bidang . Kedalamannya dalam sejarah terbukti dari wisdom wordnya: Masa depan kita ditentukan oleh pemahaman sejarah kita.

Padahal pemahaman kita tentang sejarah bangsa Indonesia , tidak terlepas dari propaganda Belanda yang dimulai ketika mesin cetak/penerbitan masuk ke Indonesia dan dikuasai oleh Belanda , yang dikenal dengan masa Babad Londo , seperti dikemukakan William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah Yale university USA dan Soeri Suroto dosen sejarah UGM…..Secara umum abad ke 19 merupakan zaman yang “kejam” bagi pemikiran sejarah Indonesia , khususnya Jawa( 19)…..yang kemudian kita kenal “babad londo” dimana tokoh yang paling penting ( beradab) adalah Gubernur Jendral Belanda (20)[1]

Berdasarkan pendapat diatas maka sangat menarik untuk menelaah kembali tentang Kebudayaan /kesenian Banyuwangi , apalagi setelah munculnya kegiatan event Banyuwangi Festival yang berlangsung cukup lama ( selama enam bulan ) dengan beragam atraksi. Salah satu topic yang sangat menarik itu adalah tentang pengaruh kebudayaan /kesenian Bali , terhadap kebudayaan / kesenian Banyuwangi .

Pengaruh itu menurut sahibul hikayat tertanam pada saat kerajaan Bali menjajah Kerajaan Blambangan . Theory tentang penjajah menanam pengaruh terhadap peradaban , termasuk kebudayaan dan kesenian ,sulit dapat dibantah. Penjajah memiliki watak superior, oleh karena itu dapat memaksakan peradabannya menjadi peradaban anak jajahan sebagai upaya untuk menjaga kelanggengan penjajahannya .

Salah satu faktor munculnya hipothesa ini ,adalh karena kebudayaan / kesenian Banyuwangi memiliki ciri, warna yang sangat khusus ,terutama jika dibandingkan dengan kebudayaan /kesenian yang berkembang pada tataran tanah Jawa. Kebudayaan /kesenian Banyuwangi berbeda jauh dengan kebudayaan /keseniaan Jawa , terutama dalam nada dan ritme, yang lincah penuh gairah, seperti pendapat para ahli yang dikirim oleh Dir Jen Nilai Budaya Seni dan Film yang menyimpulkan tentang kesenian Banyuwangi sebagai berikut : Perbedaannya dengan musik dari bagian lain di Jawa terletak pada cara memainkannya. Banyuwangi selalu menggunakan tempo yang cepat dan jalinan rumit yang tidak ditemui dibagian manapun di pulau Jawa.[2]

Maka sangat menarik untuk melacak kebenaran hipothesa diatas dengan mengajukan tiga pertanyaan;

1. Benarkah kerajaan kerajaan Bali pernah menjajah Blambangan?

2. Benarkah kebudayaan /kesenian Banyuwangi dipengaruhi Bali?,

3. Adakah sumber peradaban Blambangan, yang membuat kebudayaan/kesenian Blambangan berbeda dengan kebudayaan/kesenian Jawa?

Penjajahan Bali di Blambangan dan fakta fakta kerajaan itu.

Yang menarik dari pernyataan tentang penjajahan Bali terhadap kerajaaan Blambangan , ternyata sangat simpang siur ,mulai dari aspek waktunya maupun siapa yang menjajahnya.

Inilah pernyataan pernyataan itu

· Ada sejarahwan yang menyatakan bahwa Blambangan dijajah oleh kerajaan Gel Gel pada tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin Waturenggong

· Ada yang menyatakan bahwa Blambangan dijajah Buleleng pada masa Gusti Ngurah Panji mulai tahun 1697 sampai dengan tahun 1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung ( Lekkerker Blambangan hal 1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 39 )

· Sementara .Drs I Made Sudjana MA, menyatakanBlambangan dijajah Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal ( Nagari Tawon Madu hal 57 _ 68)

· Sementara babad Buleleng via Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680. Kayu Mas Agung 1995) bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) diceritakan mengusai Blambangan

· Ada yang tanpa menyebutkan tahun dan kerajaannya, hanya menyatakan kerajaan Blambangan pernah dijajah Bali, padahal di Bali memiliki kerajaan sangat banyak, dan pada masa lalu kerajaan tersebut saling berebut kekuasaan.

Karena ada perbedaan pendapat/interpretasi , maka untuk menjelaskan data tersebut , penulis mengikuti petunjuk Arnold J . Toynbee yang menyatakan bahwa untuk menjelaskan suatu bagian , terlebih dahulu kita harus meninjau keseluruhan .

“in order to understand the part we must first focus our attention upon the whole , because this whole is the field of study that is intelligible in self.[3] Dan disamping itu mengikuti petunjuk petunjuk methode historis ( historical methode) bahwa dalam pengangkatan data menjadi fakta hendaklah melalui dua tingkatan kegiatan , yaitu pertama tama kita harus melakukan kritik historis ( historical critic = penilaian terhadap sumber ) yang menyelidik apakah data itu asli atau tidak akan dan bagaimana sifat serta coraknya. Sesudah itu kita melakukan interpretasi , yang akan menetapkan makna dan saling hubungannya data tersebut. Dari situlah akan dapat ditentukan apaka data sejarah itu dapat diangkat menjadi fakta sejarah atau tidak.

Fakta sejarah dari kerajaan Gelgel , Mengwi , Buleleng berdasar sumber dari Bali sebagai berikut

· Kerajaan Gelgel

1.Dibangun oleh Dalem Watu Renggong 1460 dan berdiri sampai 1550. Kerajaan Gel Gel mengalami masa jaya pada masa Dalem WatuRenggong selama 25 tahun , kemudian setelah itu pengaruhnya memudar

2.Dalem Watu Renggong digantikan oleh I Gusti Agung Maruti ,dan memerintah mulai pada tahun 1551 . Selama dalam pemerintahan I Gusti Agung Maruti , kejayaan Gel Gel semakin menurun dan kemudian terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil , tetapi tetap bernaung dibawah lindunngan kerajaan Gel Gel . Selanjutnya Gel Gel metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil tersebut yaitu Mengwi, Buleleng , Karangasem dll..

· Kerajaan Mengwi

1.Didirikan oleh Gusti Agung Anom pada tahun 1627 . Mengalami masa jaya setelah dipimpin putranya Gusti Agung Putu 1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung,

2. Mengwi seperti halnya Badung , Buleleng, Karangasem, Gianyar, Tabanan berada dibawah Klungkung.

3. Setelah I Gusti Agung Made Agung merasa kuat, beliau berusaha berdiri sejajar dengan Klungkung dan menjadi kerajaan yang berdaulat. Pendapat lainnya mengemukakan setelah Mengwi menaklukkan Blambanngan gelarnya menjadi I Gusti Cokorde Sakti Blambangan.

4. Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729 Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan ( Pangeran Pati II). Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.Tetapi kemudian runtuh karena gempuran kerajaan Badung.

· Kerajaan Buleleng

didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697)

Apabila kita sandingkan fakta fakta kerajaan yang ada di Bali tersebut diatas dengan fakta sejarah dari kerajaan Blambangan, maka betapa pernyataan penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng , Mengwi ,jauh dari kebenaran, apalagi ditinjau dari perspektive yang lebih luas , dari aspek religius maupun luas wilayah.

Ketidak benaran Blambangan di jajah Gel Gel.

Seperti disebutkan diatas bahwa Blambangan dijajah Gel Gel pada tahun 1547 ketika Gel Gel dipimpin Waturenggong .

Dikisahkan pada tahun 1546, ketika Sultan Ternggono dari kerajaan Demak merencanakan menyerang Panarukan , Dalem Waturenggong , raja Gelgel di Bali , mendahului menyerang Blambangan pada tahun 1547 dengan mengerahkan 200.000 laskar Gelgel di bawah kyai Ularan membunuh penduduk , merampas harta, dan membunuh raja Blambangan . ( Drs I Made Sudjana MA Nagari Tawon Madu )

Pernyataan tersebut sangat tidak mungkin ;

1.Ditinjau dari sejarah Gel Gel , seperti disebutkan diatas bahwa Dalem Watu Renggong mendirikan Gel Gel pada 1460 dan memerintah 25 tahun , atau berakhir pada tahun 1485.

2.Jika penyerangan dilakukan pada tahun 1546 maka yang mungkin menyerang adalah I Gusti Agung Maruti . Tetapi pada saat itu Gel Gel sudah lewat masa jayanya dan malahan pada tahun 1551 Gel Gel terbelah menjadi beberapa kerajaan kecil dan Gel Gel metamorphosis menjadi kerajaan Klungkung , yang lebih menekankan pada aspek rochani, yaitu sebagai pelindung kerajaan kecil itu .

3.Selain itu disebutkan bahwa penyerangan itu dilakukan dengan mengerahkan 200 ribu tentara ,untuk menaklukan Blambangan yang ibu nagarinya berada di Panarukan .

1. Pertanyaannya adalah berapa jumlah penduduk Gel Gel pada saat itu ?

2. Mungkinkah Gel Gel mampu mengerahkan 200 ribu pasukan ?

Jika mengikuti theory tentang besarnya kekuatan militer satu negara adalah 10 persen ,mungkinkah penduduk kerajaan Gel Gel mencapai dua juta orang ? Sebagai perbandingan adalah catatan penduduk Blambangan yang disampaikan oleh Stanford Rafless pada tahun 1750 hanya 80 ribu orang .[4] Jumlah itu ternyata diragukan oleh beberapa sejarahwan , padahal Blambangan pada saat itu mencakup daerah yang sangat luas Lamajang , Panarukan ( Situbondo ) ,Kedawung ( Jember , Bondowoso , Banyuwangi)[5] atau seluas 10 ribu km. sebuah nagari yang amat subur , makmur dan seluas dua kali pulau Bali jadi jauh lebih besar dari kerajaan Gel Gel yang hanya bagian dari Bali.

Dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, DR Sri Margana yang mengambil Doktor di Universitas Leiden ,mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II sebagai berikut;

· Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati sebanyak 270 orang.

· Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.

· Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)

· Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665

Andai kata kita sepakati bahwa jumlah penduduk Gel Gel sangat besar , pertanyaannya adalah mampukah Gel Gel mengirim tentara 200.000 orang ke Panarukan.??? Dengan dengan kapal layar terbesar yang dimiliki oleh orang Madura saat ini dengan daya tampung maximal 100 orang, maka diperlukan 2000( dua ribu kapal). Suatu hal yang sangat fantasis. Baik dari jumlah maupun biaya yang dikeluarkan. Sedang jumlah laskar tersebut jauh lebih besar dari laskar yang dikerahkan sahabat Umar Ibn Chatab untuk menaklukan kerajaan besar Persia atau laskar yang dikerahkan oleh Jengkhis Khan untuk menaklukan Daulah Abbasiyah. Atau dibandingkan dengan ketika Ku Blai Khan raja Asia dan Eropa menyerang Singosari , yang mengerahkan 10 ribu tentara , dengan 1000 kapal dan persiapan perak satu ton. Padahal kerajaan di Bali hanya bertumpu pada suwilih ( upeti dari petani),[6] dan Bali bukan tanah yang subur. Hanya dengan kerja keras dan rasa cinta yang mendalam orang Bali mampu berkehidupan .Dalam sejarah terdapat contoh dalam pertempuran Buleleng dan Mengwi menyiagakan armada 40 buah perahu mayang, pancalang , jukung . Pasukan Mengwi bergerak sejak Juni 1766, tetapi pada Juli 1766, sudah kehabisan Logistik (kelaparan) . [7]

4.Serangan itu juga mustahil karena kerajaan Blambangan diakui sebagai negara kaya dan telah memiliki armada laut yang kuat dengan demikian jauh lebih perkasa dari Bali.Dibawah ini kutipan keadaan Blambangan dari abad 14 sampai abad 16. Fakta tentang kemakmuran kerajaan Blambangan juga di kemukakan oleh Jonno de Barros, Decada IV,buku I,bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca /Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam , dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam[8] Dibawah ini adalah peta p.Jawa dari buku Summa oriental /Tome pires. Fideida adalah Panarukan .

5.Konsep religius agama Hindu tentang Jagad raya yang merupakan agama orang Bali juga tidak memungkinkan serangan itu. DR. Agus Aris Munandar , menulis bahwa konsep religius Hindu tentang dunia sbb,[9] Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan alam semesta( Axis Mundi )terdiri tiga dunia yaitu Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka . Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru terdapat sorga , istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggap derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya.Oleh karenanya daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduisme lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa. Oleh karena itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu.Juga larangan bagi pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan, seperti terungkap dari legenda tentang penyebaran agama Hindu dari India ke Nusantara , dan dari Jawa ke Bali

Dalam penyebaran agama Hindu ke Nusantara.Dikisahkan pendeta suci Agastya harus bertiwikrama , sehingga mampu menghirup air laut yang memisahkan Asia dengan Nusantara, dan ketika air laut kering maka pendeta Agastyapun berjalan menuju Nusantara dan menyebarkan agama Hindu di Swarnadwipa. Legenda itu diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air) .Patung itu tersimpan di Museum Gajah Jakarta.

Dalam penyebaran Hindu dari Jawa ke Bali , diyakini pada masa kerajaan Daha Jaya , Jawa dan Bali masih satu pulau. Mpu Sidhimantra dari Daha (Jawa) yang berperanan penting dalam penyebaran agama Hindu di Bali, terpaksa membelah Jawa dan Bali, agar putranya Manik Angkeran , berbakti kepada Naga Basukih yang menetap di Pura Besakih ( Bali).

Betapa besarnya pengaruh konsep religius Hindu tentang dunia , yang mengabaikan laut, terbukti tidak adanya gambar kapal laut di candi Hindu

Lebih dari itu Drs I Made Sudjana MA juga menolak bahwa Dalem Waturenggong menguasai Blambangan ( Nagari Tawon Madu 27)

Ketidak benaran penjajahan Buleleng terhadap Blambangan. Seperti dikemukakan diatas bahwa Blambangan dijajah Buleleng pada masa Gusti Ngurah Panji mulai tahun 1697 sampai dengan tahun 1729 . Karena Buleleng dikalahkan Mengwi maka Blambamgan kemudian dijajah oleh Mengwi .Ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung ( Lekkerker Blambangan hal 1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 39 )

Pernyataan tersebut tidak mungkin ;

1. Buleleng terletak di Singaraja . Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya agama Hindu.

2. Kerajaan Buleleng didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti dan mengalami masa jaya pada (1660 sd 1697). Jadi pada tahun 1697 I Gusti Ngurah Panji Sakti telah wafat. Kemudian Buleleng tidak memiliki raja besar lagi.

3. Jika mengacu pada tulisan pada babad Buleleng dan tulisan Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).bahwa Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti menguasai Blambangan pada tahun (1660 sd 1697) , maka hal itu juga tidak mungkin karena pada masa itu Blambangan justru berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.DR Sri Margana yang mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ dalam Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, mengemukakan Blambangan pada masa Tawangalun II seperti dikutip diatas

Ketidak benaran penjajahan Mengwi atas Blambangan.

Pernyataan penjajahan Mengwi terhadap Blambangan sama kacaunya dengan pernyataan penjajahan Blambamgan oleh Buleleng. Lekkerker menyatakan sejak tahun 1729 ketika Mengwi dipimpin oleh I Gusti Made Agung ( Lekkerker Blambangan hal 1043 1044 via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 39 ) Sementara .Drs I Made Sudjana MA, Blambangan dijajah Mengwi pada pada tahun 1763 sampai dengan 1768. Pada tahun 1766 , Buleleng mencoba merebut Blambangan dari Mengwi namun gagal ( Nagari Tawon Madu hal 57 _ 68)

Pernyataan tersebut tidak mungkin ;

1. Seperti saya sebutkan diatas bahwa kerajaan di Bali bertumpu pada pertanian ,dan tidak memiliki keahlian Maritim karena konsep religius Jagat raya agama Hindu.

2. Berdasar catatan sejarah Kerajaan Mengwi , didirikan Gusti Agung Putu dan digantikan putranya pada tahun 1634 ,bergelar I Gusti Agung Made Agung, dan pada pemerintahananya mengalami masa jaya. Raja I Gusti Agung Made Agung telah meninggal pada tahun 1659. Dan pada saat itu Kerajaan Blambangan sedang mengalami masa jaya di masa Tawangalun II

3. Setelah pemerintahan I Gusti Agung Made Agung yang berlangsung selama 25 tahun , Mengwi terus mendapat gempuran dari Buleleng dan Badung, yang mendapat restu dari Klungkung, dan Mengwi terus mengalami kemunduran. Pada tahun 1729 Mengwi mendapat gempuran dari Buleleng , dan meminta bantuan Blambangan ( Pangeran Pati II) .P.Pati mengirim 3000 JAGABELA sebanyak 3000 orang yang bersenjatakan keris emas. Dengan kekuatan tempur itu dan dukungan rakyat ,serbuan Kerajaaan Buleleng digagalkan.(45)Berkat bantuan Blambangan Mengwi terhindar dari kehancuran , dan sebagai imbalan P.Pati II dihadiahi putri Mengwi , yang dari perkawinan ini lahir Wong Agung Wilis.

4. Drs I Made Sudjana MA (Leiden) dengan susah payah mencari bukti , akhirnya menyimpulkan bahwa Mengwi menguasai Blambangan pada 1763 sd 1768 padahal pada masa itu Mengwi sudah sangat lemah.

5. Dalam riwayat penjajahan di muka bumi ini, hanya sekali ini, saya mendapatkan seorang penjajah menggunakan tempat yang dijajah .Ku Bilai Khan , yang berasal dari stepa gurun di Mongolia , tidak menggunakan nama Abbasiyah atau nama dinasti di China,yang dijajahnya, dan di hancur leburkan, walaupun dia berasal dari peradaban yang lebih rendah . Demikian juga sejarah di Nusantara

Dengan uraian diatas menjadi jelas bahwa penjajahan kerajaaan kerajaan Bali tidak memiliki fakta yang benar .Bagaimana mungkin kerajaan yang terpecah belah dan saling bertempur , tidak memiliki ekonomi yang baik, dan tidak memiliki industri perkapalan dan kebiasaan melaut mampu menyerbu menguasai Blambangan . Adanya kesamaan cerita, yaitu bahwa setiap masa keemasan masa raja Gelgel, Mengwi, Buleleng , pasti menguasai kerajaan Blambangan,karena cerita menguasai kerajaan Blambangan menjadi simbol kebesaran raja raja Bali. Ini bisa dipahami bila kita kaitkan fungsi Babad dalam kerajaan Bali adalah sebuah naskah suci, yang menjadi bukti legalitas kerajaan Bali . ( DR.Robin Tatu meraih gelar MA. dalam program Asian Study di University of Hawaii di kota Manoa dalam bulan Agustus 1999. sekarang PhD dalam bidang Sejarah). Menguasai Blambangan yang daerahnya meliputi Lumajang , Situbondo, Bondowoso , Jember , Banyuwangi , berarti memiliki G. Semeru yang terletak di Lumajang . Dan Gunung Semeru adalah tempat bersemayam Dewa Siwa ,tempat suci , orang Hindu. Jadi menguasai Blambangan adalah bagian mendapatkan Legalitas Kerajaan Bali.

Adakah pengaruh Bali pada kebudayaan /kesenian Banyuwangi ?

Jelas sudah berdasarkan kajian sejarah tidak terbukti penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng , Mengwi terhadap Blambangan, maka kita perlu melacaknya melalui ragam kesenian.

Tentang ragam kesenian Banyuwangi , saya menggunakan kajian yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Nilai Budaya Seni dan Film , Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto, volume 7,Banyuwangi tahun 2002.

Ragam kesenian Banyuwangi menurut buku tersebut adalah;

1. Angklung Caruk

2. Angklung Paglak

3. Gandrung

4. Kuntulan

5. Gembrung (Burdah)

6. Barong

7. Gedhogan Lesung

8. Patrol

Dari rincian kesenian diatas sulit mencari padanan kesenian mana yang dipengaruhi Bali.

Kesenian Kuntulan dan Gembrung ( Burdah )

Kesenian ini , jelas berasal dari peradaban Islam yang berasal dari kesenian Rebana. [10]

Barong .

Dalam hal kesenian Barong, ternyata bentuk Barong Banyuwangi berbeda dengan Barong Bali. Barong Banyuwangi bersayap sedang barong Bali tidak. Tentu aneh menyatakan Barong Banyuwangi adalah pengaruh dari kesenian Bali.Malahan Barong Banyuwangi sangat mirip dengan relief Narasingha pada masa kerajaan Daha.

Relief Narasingha

Dengan demikian ada kemungkinan besar bahwa Barong Blamabangan berasal dari peradaban Daha.

Gandrung

Demikian juga Gandrung , tidak ada kemiripan dengan tari Legong di Bali. Gandrung yang awalnya dipopulerkan oleh penari laki laki , pada awalnya terdiri atas tiga babak , yaitu babak Jejer, Paju dan Seblang . Gandrung bukanlah tari hiburan seperti Legong , maupun Tandak, Tayub, Ronggeng.

Dedy Luthan menulis bahwa gandrung pada dasarnya penuh pesan moral dan penarinya meyakini menjadi gandrung adalah panggilan Jiwa, semacam ritual.

“Para gandrung pada masa lampau begitu teguh mempertahankan cara yang demikian( melagukan secara penuh ,SEBLANG LOKENTO, SEKAR JENANG, KEMBANG PEPE, SONDRENG SONDRENG dan KEMBANG PIRMA), sehingga walaupun puisi puisi tersebut tidak pernah ditulis namun hingga dewasa ini sebagian besar dari puisi puisi masih diingat dan dinyanyikan oleh orang tua terutama yang ada di pedesaaan, pada hal puisi puisi tersebut merupakan puisi yang amat tinggi dengan bahasa yang sulit dimengerti.”

Disamping itu beliau mengungkapkan bahwa kesenian Gandrung penuh mystery dan banyak sekali yang berunsur ritual.dan Inilah petikan tulisan beliau.
• Sewaktu melagukan puisi delapan bait, baik dibabak pertama maupun babak Seblang Gandrung tidak menari sebagaimana layaknya namun yang disuguhkan berupa” pantomin” serta hanya diiringi oleh alat musik pembawa melodi,seperti biola……..dan ketika biola belum digunakan ,….melodi tersebut didendangkan melalui mulut.( tahun 1939) hal 14[11]

Sebuah buku yang diterbitkan Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang diprakarsai Dir.Jen Prof DR Edi Sedyawati, dan Pelaksana Prof DR Sri Hastanto mengiringi volume 7 Tradisi Musik Nusantara khusus tentang Gandrung Banyuwangi menulis sbb;
• Walaupun kini telah banyak berubah ,namun sisa sisa wajah ritual itu masih sering terlihat. Misalnya dengan gerak tari yang “aneh”.Kadang kadang gerak demikian tidak sesuai dengan dandanan dan kecantikan serta, karakteristik penari.(hal 66)
• Ketika sedang menghias diri sendiri…..ditulis sbb: Itu semua dilakukan dengan ikhlas dan riang gembira,jauh dari sikap manja yang sering dilakukan oleh para artis……Ketika ditanya tentang sikap tersebut mereka menjawab:INI ADALAH IBADAH( hal 68)

Angklung Caruk.

Dari kelengkapan peralatan dan corak interior , dan lagu serta ragam pertunjukan sulit dicarikan padanan dengan kesenian di Bali. Angklung Bali jauh lebih sederhana peralatannya dan interiornya, begitu juga materi permainnya ( baik Rindik maupun Bung bung).Juga kesenian angklung di daerah lainnya. Maka sulit mengatakan Angklung caruk merupakan kesenian yang dipengaruhi oleh Bali. Theory tentang kesenian, selalu mengatakan kesenian utama memiliki kelengkapan, ragam interior yang lebih complex dan sempurna .

Jika kita lacak pada masa lalu , musik angklung telah ada pada relief Pendopo Agung candi Penataran.Lihat gambar dibawah.Dengan demikian angklung Banyuwangi adalah turunan dan penyempurnaan dari zaman Majapahit.

Hiasan angklung berupa Naga Ontorejo adalah naga yang berkepala manusia hiasan khas Banyuwangi yang tidak ditemui pada angklung lainnya . Dalam dunia spiritual Blambangan Naga Ontorejo atau Ontobumi dialah makhluk suci salah satu penjaga bumi , kemakmuran.

Dalam kesenian Angklung Caruk, terdapat episode, pertarungan untuk memperlihatkan kemampuan dalam olah seni yang sangat tinggi untuk menebak lagu lawan dalam tempo hitungan detik . Lagu ini bukan lagu biasa, tetapi gabungan bunyi yang penuh mysteri. Dan yang terlibat dalam pertarungan ini, bukan hanya nayaga Angklung,tetapi juga penonton. Dalam arti penonton mampu menilai dengan obyektive kemahiran pemain angklung .Pada massa kecil penulis (tahun 1960an) penonton sangat disiplin dan sportif, dan bersikap objektiv. Angklung caruk dapat mewakili watak orang Banyuwangi yang dilukiskan oleh prabu Tawangalun II , yang memiliki empat character yaitu Kaloka (Visioner) , Prawira , Wibawa . Dalam angklung caruk adalah manifestasi dari watak Prawira, yaitu mengadu keahlian untuk mengasah watak supaya memahami nada , maka muncullah rasa berkesenian dalam kehidupan sehari hari Sehingga merasuk dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi

Angklung Caruklah yang sebenarnya menurunkan kepekaan kesenian orang Banyuwangi, dan menurunkan penghargaan yang amat besar terhadap kesenian. Angklung Caruk adalah kesenian , yang belum penulis temukan padanannya dimanapun.

Ukiran patung nogo ontorejo,yang ditemukan di Singojuruh. ( Museum Blambangan )

Angklung paglak ,Gedhogan Lesung , Patrol

Rasa berkesenian yang tinggi inilah kemudian menjelma dalam setiap peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Blambangan /Banyuwangi .

Maka tidak heran ketika musim panen muncul Angklung Paglak untuk mengusir burung yang memakan padi dan menghibur para petani yang memanen padi. Sedang ketika musim menumbuk padi , rasa kesenian orang Banyuwangi muncul dalam Gedhogan , tidak sekedar menumbuk , tetapi juga memberi nada dan irama yang menghibur. Begitu juga ketika menjalankan ibadah puasa, orang Banyuwangi yang memiliki rasa kesenian yang tinggi , tidak hanya berteriak membangun orang untuk bersahur , tetapi membangunkan dengan rasa seni yang tinggi , yaitu dengan musik patrol

Kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar Maya

Saya sependapat dengan para ahli yang dikirim oleh Dit Jen Nilai Budaya Seni dan Film , Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Pemrakarsa Prof.DR. Edi Sedyawati,dan pelaksana Prof DR. Sri Hastanto, tahun 2002 yang tidak memasukkan kesenian Damarwulan , Jaranan, Rengganis /Umar Maya sebagai ragam kesenian Banyuwangi dengan pertimbangan sebagai berikut:

Damarwulan
.

Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebut “Janger.”Cerita dalam pertunjukan ini adalah tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik, pincang, dan matanya buta sebelah , dengan suara cadel dan parau serta memiliki character angkuh , culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu .

Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa.

Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan,sebagai Senopati Mojopahit. Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu . Sang rupawanpun akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri istri Menakjinggo.

Jika ditinjau dari cerita yang menggambarkan keburukan raja Blambangan maka menjadi pertanyaan mengapa cerita ini begitu populer di Banyuwangi. Sebab biasanya tidak ada masyarakat yang dapat menerima jika pahlawannya digambarkan sebagai pecundang ( Orang Sri Langka menolak penggambaran Dasamuka dari kisah Ramayana , demikian juga orang Madura akan marah besar apabila Trunojoyo pahlawannya ditampilkan sebagai penghianat)

Sampai dengan tahun 1960an , seni pertunjukan Damarwulan,cukup memikat dan sering dipagelarkan dalam setiap keramaian , mulai dari pesta hajatan sampai pesta Kemerdekaan . Setelah itu mulai meredup dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat Banyuwangi.

Menurut DR ( Leiden University ) Sri Margana cerita Damarwulan dan Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC.[12]

Brandes ,sejarahwan Belanda[13] dan Professor Slamet Mulyana berpendapat kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.

Prof Slamet Mulyana menulis bahwa penulis (sastrawan Mataram) Serat Kanda dan Serat Damarwulan hanya mengetahui kisah Perang Paregreg ( Perang yang terjadi berulang kali )antara Bhree Wirabhumi ( Menakjinggo ) raja Blambangan dan Wikramawardhana dalam memperebutkan tahta Majapahit, tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya.Dalam fakta sejarah Bhree Wirabhumi adalah putra satu satunya prabu Rajasa Nagara ( Hayamwuruk ) , yang telah dinobatkan sebagai Nararya Lamajang Tigang Juru /Kedaton wetan /Blambangan , sementara Wikramawardhana adalah menantu Hayamwuruk. Dari garis trah , Bhree Wirabhumi memiliki trah Sanggramawijya sementara Wikramawardhana tidak memiliki trah tersebut, dengan demikian berdasar fakta sejarah , Bhree Wirabhumi berhak untuk menjadi raja Majapahit. Tapi fakta tersebut diabaikan oleh penulis Serat Damarwulan,dan Serat Kanda dan diputar balikkan.

Dengan demikian cerita ini merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap sejarah masa lalu.Melalui penggambaran itu maka dicapai dua sasaran , penguasa ingin mengesankan pada rakyat Blambangan, bahwa penguasa adalah sebagai pembebas dari raja culas, yang tak tahu diri .Penggunaan custome dan gamelan dari Bali mengesankan bahwa cerita ini berasal dari Bali sebagi bukti kuatnya pengaruh Bali atau sebagai bukti adanya penjajahan oleh Bali.Suatu usaha untuk mengadu domba orang Blambangan dan Bali dan memutar balikkan fakta sejarah.

DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita tentang Damarwulan ,Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram /Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya ( Power full) di Blambangan.[14]

Pendapat DR. Sri Margana tersebut sangat tepat, dan sesuai hasil penelitian Noevi Anoegrajekti . [15]

Sedang usaha adu domba orang Blambangan dengan orang Bali tidak berhasil karena

Damarwulan , Menakjinggo ini tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera , tempat kebudayaan pesisir mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer. [16] Pendapat ini sangat tepat pada daerah Gersik , Pesisir Utara Jawa, Cirebon , Banten , para kyai Sepuh ,lebih meningat orang Blambangan sebagai pewaris Sunan Giri . ( Pengalaman penulis )

Jaranan dan Rengganis

Kesenian ini dibawa oleh para pendatang dari Jawa .Dan sebagai masyarakat yang terbuka dan memiliki rasa seni yang mendalam ,maka segala macam kesenian yang dibawa pendatang dapat berkembang dengan baik di Banyuwangi. Sementara kesenian Jaranan semakin disenangi , dan memunculkan genre baru dalam Jaranan yaitu Jaranan Buta Sebaliknya Kesenian Rengganis sampai tahun 50an masih cukup populer , tetapi kemudian meredup tahun 60an, akhirnya harus tenggelam ditelan zaman. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah karena pakaian dan gamelan yang digunakan dalam keseniaan ini adalah pakaian dan gamelan wayang , sedang cerita bernuansa Islam . Tokoh Lamdahur berpakaian dan berdandan sama dengan Bima. Jadi bagi masyarakat Banyuwangi yang memiliki rasa kesenian yang tinggi tentu tidak menarik dan membingungkan.Bagaimana mungkin cerita Islam bercustom wayang Hindu.

Peradaban Feodalisme dan Peradaban Spiritual Hindu

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[17], Dr Sri Margana [18]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa. Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya atau raja bawahan[19] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir pasukan Ku Bilai Khan , maka seperti tercantum dalam Prasasti Gunung Butak, (1294), bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai Nararya[20] . Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan pusat disebut Majapahit Kedaton Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. [21] Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan Blambangan menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

Perbedaaan kebudayaan /Kesenian Blambangan dan kebudayaan /kesenian Jawa adalah sumber /dasar dari kebudayaan tersebut .Kebudayaan Jawa berasal dari feodalisme Jawa yang terbangun pada abad ke 17 , sementara kebudayaan Blambangan terbangun dari peradaban spiritual Hindu yang terus bertahan sampai abad ke 18.[22]Berbeda dengan peradaban feodalisme ,dimana kesenian muncul dan mewakili dan dibesarkan raja , maka yang muncul adalah cerita tentang kebesaran raja rajanya, seburuk apapun raja itu . Dan lebih dari itu lawan dari raja itupun menjadi amat sangat buruk sebaik apapun fakta sejarah mencatatnya. Kesenian dipenuhi assesories yang gemerlapan, perangkat gamelan sangat sempurna. ( Langen driyan, Wayang kulit , wayang wong , ketoprak , penari yang gemulai . Masyarakat diluar keraton tidak boleh menyamai kebesaran kesenian itu , masyarakat harus menciptakan sendiri kesenian yang amat sederhana seperti Jaran kepang atau Tayub. Lain halnya masyarakat spiritual , keraton tidak memiliki peranan. Sumber kebudayaan dan kesenian adalah ritual agama. Dari ritual agama inilah keraton dan masyarakat membangun kesenian. Kesenian keraton dan kesenian rakyat menjadi satu ,yaitu mengagungkan Tuhan.Di ranah kesenian yang bersumber pada ritual inilah kesenian Blambangan ada. Ketika Blambangan bertransformasi menjadi pemeluk Islam yang teguh yang terjadi adalah acculturasi bukan sinkritisme.Hanya di Blambangan para pemeluk teguh ( muslim) berkesenian dari masa lalu (Hindu).Selesai bekerja mereka akan sembahyang menghadap Alloh, dan menjelang sore berlatih menabuh, magrib sembahyang lagi, petang berlatih seni lagi . Di kalangan santri yang teguh melakukan puji pujian, selowatan, barzanzi sebagai expressi kesenian.Semua berdampingan secara harmonis. Dan kesenian ritual sangat merasuk ketulang sumsum kalbu rakyat Blambangan . Kesenian menjadi bagian dari ibadah.

Darah seni mengalir deras di Banyuwangi.

Dari uraian diats terbukti sudah baik dari tinjauan sejarah maupun ragam kesenian tidak ada penjajahan kerajaan Gel Gel, Buleleng ,Mengwi , juga tidak ada pengaruh kebudayaan Bali . Malah kita mendapatkan bahwa kebudayaan /kesenian Banyuwangi adalah genuin /asli Banyuwangi,bersumber dari peradaban Hindu yang sangat beragam ,serta adanya keterbukaan masyarakat Banyuwangi untuk menerima kebudayaan /kesenian lain dan menyerap kesenian itu , serta kemudian memunculkan genre baru dalam berkesenian seperti nampak dalam Hadrah Kuntul, Gembrung , dan Jaranan. Ini membuktikan ada rasa berkesenian yang besar pada masyarakat Banyuwangi . Malahan ada ungkapan , bahwa bayi yang dilahirkan di Banyuwangi sudah langsung dapat menabuh angklung Darah seni yang mengalir deras dari putra Banyuwangi tidak saja membangkitkan kegairahan berkesenian di Banyuwangi , tetapi juga memunculkan seniman dan budayawan daerah yang mampu berkiprah secara Nasional dan International , dan juga mampu menarik minat seniman/ budayawan Nasional dan Internasional untuk memperhatikan kesenian /kebudayaan Banyuwangi dengan serius . Seniman dan Koreographer Nasional Dedy Luthan dan dosen IKJ malahan telah lima kali mementaskan karya Gandrungnya yaitu. Kadung Dadi Gandrung Wis ( 1990),Gandrung Salatun (1992), Iki buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1997).Gandrung Eng Tay ( 2002).

Kuntulan menginspirasi Jazzer nasional Innisrisi, dan menjadi kreasi Jazz yang memakau dalam pesta Jazz nasional,dan kemudian dipertunjukan dalam pesta Jazz International. Seblang Gandrung mendapat perhatian yang sangat serius dari Lembaga Kebudayaan yang sangat berwibawa Smithsonian Institute New York Amerika Serikat. Luk Luk Lumbu karya Andang C.Y menjadi lagu yang sangat disenangi , oleh paduan suara tingkat Nasional ( ITB dan Parahyangan ) ,dan pernah unggul dalam perlombaan paduan suara international, dan sekarang malah telah menjadi lagu pavorit pada paduan Suara di Singapore , Hong Kong, Jepang, Korea, Jerman dan Amerika. Tidak hanya dalam lagu , seniman Banyuwangi , mulai memperlihatkan kemampuannya dan mulai berkiprah ditingkat nasional dan International . Sumitro Hadi pada tahun 1970 terpilih sebagai penari dalam resepsi Hari Kemerdekanaan di Istana negara ,kemudian melesat karirnya dalam seni tari setelah membuat pakem tari Jejer Gandrung, sehingga dapat diajarkan dengan systematik, dan setelah itu dia mengajarkan pada sekolah seni, STKW Surabaya,STSI Solo,ISI Jogyakarta,DKJ Jakarta, dan melanglang buana HongKong,Amerika Serikat,Australia, Malaysia, Finlandia . Sahuni , seniman ini telah menata ulang Kuntulan menjadi Kundaran ,dan telah mementaskan Kundaran diberbagai kesmpatan Nasional maupun Internasional. Terakhir pada tanggal 9,10,11 September kesenian Kuntulan yang dipimpinnya telah menjadi salah satu peserta dalm FESTIVAL DANAU TOBA , dan berkaloborasi dengan Balawan B atuan Ethnic Bali,dan Percussionnya STING AMERIKA .Demikian juga Sofyan Subahri koreografer Banyuwangi yang kreatif itu, telah mementaskan kesenian Banyuwangi pada tingkat nasional dan international,dan terakhir pementasannya di Perancis selain mendapat sambutan yang luar biasa juga mendapat pujian dari institute kesenian dan kedutaan Besar Indonesia.Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Ballada sebuah peradaban

Rasa kekaguman kita terhadap rasa berkesenian/berkebudayaan orang Banyuwangi menjadi lebih besar , karena betapa kayanya negeri ini ,hartanya dirampas oleh Belanda dan penduduknya dibunuh dalam satu perang yang tersadis dalam sejarah Nasional [23] , dan kemudian dilakukan deslocating system seperti tercantum dalam buku Sir Thomas Stanford Raffles,History of Java tentang adanya pembunuhan besar2an di Banyuwangi , yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1771 sampai dengan tahun 1811, hingga penduduk Banyuwangi yang pada tahun 1771 berjumlah mencapai 80.000 ribu, pada tahun 1811 penduduk Banyuwangi tinggal 8000. Terbantai 90 % ( Hystory of Jawa , English page 68, Indonesia hal 48).

Kesadisan penjajah Belanda tidak hanya berupa siksaan fisik tetapi juga mental ,orang Banyuwangi seperti dikatakan oleh Dr Sri Margana di legemitasi dan disiniskan dengan legenda yang memalukan tentang pemimpinnya (cerita Menakjinggo Damarwulan ), dan dihapuskan kebesaran sejarahnya , dihancurkan leburkan istana Macan Putih untuk kemudian bahan bahannya digunakan sebagai rumah resident di Sukorejo[24].Rakyat Blambangan diadu domba dengan para pendatang, terutama Bali, kesejahteran dan pendidikannya diabaikan. Sampai tahun 60an , hanya ada satu SD di tingkat Kacamatan , dan hanya satu SMP pada tingkat Kabupaten . Dalam masa kemerdekaan , kita hanya sekejap mendapat kegairahan , kemudian sikap sinisme nerkembang lagi , melalui issue Komonis, dan terakhir Santet.

Tetapi seperti diakui oleh Scholte (1927:146): “Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”.

Sumber Kesenian Banyuwangi.

Benar bahwa sampai tahun 2000an , Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah legenda yang ada di dongeng dongeng para sastrawan Mataram. Kerajaan Blambangan hanyalah sebuah kerajaan yang dipimpin raksasa atau orang cacat sempurna yang tak tahu diri, yang ingin mempersunting ratu Majapahit. Dan karena pengaruh Belanda , fakta sejarah Blambangan lenyap dari sejarh Nasional. Tetapi masa itu telah berlalu dengan munculnya para sejarahwan seperti Drs I Made Sudjana MA[25], Dr Sri Margana [26]yang mampu dengan gemilang mempertahankan disertasinya di Leiden University, bahwa Kerajaan Blambangangan adalah fakta sejarah

Dalam kaitannya dengan sejarah kerajaan Blambangan ternyata Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa. Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa. Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya atau raja bawahan[27] , dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara ,Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Sayang , ambisi yang besar memperluas kerajaan, rupanya memperlemah kedudukan didalam negeri,sehingga negeri ini dapat ditundukkan Jayakatwang dari kerajaan Gelang Gelang (Kediri).

Ketika putra menantu Kertanegara , R.Wijaya berusaha merebut kembali Singosari dari Jayakatwang dan tentara Ku Bilai Khan , maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja adipati Madura. Pasukan gabungan ini mampu mengusir pasukan Ku Bilai Khan , maka seperti tercantum dalam Prasasti Gunung Butak, (1294), bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.” Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai Nararya[28] . Maka Lamajang menjadi Majapahit Kedaton Wetan dan pusat disebut Majapahit Kedaton Kulon. Kedua bagian Majapahit memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Dan sejarah Majapahit ditentukan oleh hubungan dua bagian ini. Ketika kedua sanak kadang ini bersatu maka Majapahit mencapai kejayaan , dan ketika terbelah maka suramlah Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1528 , Majapahit Kedaton Wetan /Blambangan tetap exist. Dalam wawancara dengan wartawan TEMPO DR Sri Margana yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September.2010 , antara lain mengemukakan bahwa Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati sebanyak 270 orang.

Kerajaan ini mampu bertahan sampai tahun 1771, dan menjadi kerajaan terakhir di Jawa diduduki Belanda. Dengan demikian kerajaan ini berumur 500 tahun , dan telah mengalami masa jaya Majapahit, dan juga pernah mengalami masa Jaya setelah Majapahit runtuh.Kerajaan Blambangan menjadi bukti bahwa Kerajaan Hindu bisa berdiri berdampingan dengan Kerajaan Islam Giri , dan Demak .Dengan demikian kerajaan ini memiliki tradisi yang sangat kuat dan mampu menyesuaikan dengan perobahan zaman . Oleh karena itu peradabannya juga tidak gampang terkikis , apalagi selama masa ibu nagari berada di dataran Banyuwangi ( Masa Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) , kerajaan Blambangan mampu mempertahankan kemandiriannya karena perlindungan alam yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan manapun di Jawa ( Terlindung oleh Gunung Raung dan Merapi). Pengaruh Islam diterima karena adanya hubungan darah antara Sunan Giri dengan darah biru Blambangan . Sehingga Islam menyebar dengan penuh damai . Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan visi, yaitu tidak bisa menerima pendudukan Belanda. Dan sikap egaliter dari kedua kerajaan ini menjadikan hubungan kedua kerajaan mampu duduk berdampingan. Disamping itu baik kerajaan Hindu maupun Islam memiliki pola yang sama dalam penyebar luasan kesenian yaitu bersumber dari ritual , sehingga tidak ada perbedaan antara kesenian di keraton maupun di desa desa . Maka kesenian sangat meresap di hati rakyat dan teguh tak tergoyahkan .Oleh karena itu pantaslah disebut kesenian Banyuwangi adalah warisan peradaban kerajaan Blambangan yang agung , yang diterima dari peradaban agung Majapahit.

Berbeda dengan kesenian pada masa feodalisme keraton dibawah kekuasaan VOC, terjadi perbedaan yang jelas antara kesenian yang berkembang untuk raja dan bangsawan keraton. Kesenian Keraton memiliki ragam alat gamelan yang sangat complex , seperti nampak dalam Langebdriyan, Wayang , seperti di luar kraton rakyat hanya boleh membuat kesenian yang sangat sederhana seperti Jaranan, Tandak, Kentrung.

Artikel ini ditulis oleh Bpk. Sumono Abdul Hamid.

0 comments